Selasa, 23 April 2013

GHUNNAH MUSYADDADAH ATAU WAJIBUL GHUNNAH

 HUKUM MIM DAN NUN YANG BERTASYDID



Jika membaca Al-Quran dan kemudian menemukan huruf mim atau nun yang bertasydid (مّ/ نّ ) maka disana terdapat hukum ghunnah musyaddadah ( غُنَّةُ مُشَدَّدَةٌ )

Ghunnah menurut bahasa arinya dengung, musyaddadah artinya bertasydid atau memakai tasydid.

Ghunnah menurut istilah ialah: "Suara yang jelas(dan nyaring) yang keluar dari al-Khaisyum (pangkal hidung) dengan tidak menggunakan lidah pada waktu mengucapkannya".

Pengertian Ghunnah Musyaddah adalah:"Hurum mim dan nun yang dalam keadaan bertasydid".

Cara membaca ghunnah musyaddadah yaitu dengan menghentakkan suara mim atau nun yang bertasydid, didengungkan secara nyata ke pangkal hidung, selama dua harakat/ketukan

(Adapun mengenai ukuran lama ghunnahnya sebagian ulama Qiro'at menetapkan dengan cara menutup jari atau membukanya dengan gerakan tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.


Huruf  ‘Nun’ dan  ‘Mim’ yang bertasydid dan ditampilkan dengan warna merah dibawah ini, itulah contoh kasus Ghunnah.
 http://binaalquran.files.wordpress.com/2011/01/contoh-ghunnah.jpg


 
  • Pada ketukan ke-1 kita akan mengucapkan ‘tsum’. Pertahankan bibir  anda pada posisi bunyi ‘m’ hingga ketukan ke-5.  Bunyi ‘m’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘ma’ pada ketukan ke-5. Bunyi ‘m’ dari ketukan ke-1 hingga menjelang ketukan ke-5 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘m’ dengan durasi 4 ketukan.
  • Pada ketukan ke-10  anda akan mengucapkan ‘lun’. Pertahankan lidah  anda pada posisi bunyi ‘n’ hingga ketukan ke-14. Bunyi ‘n’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘na’ pada ketukan ke-14. Bunyi ‘n’ dari ketukan ke-10  hingga menjelang ketukan ke-14 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘n’ dengan durasi 4 ketukan.
  • Pada ketukan ke-22  anda akan mengucapkan ‘nin’. Pertahankani lidah  anda pada posisi bunyi ‘n’ hingga ketukan ke-26. Bunyi ‘n’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘na’ pada ketukan ke-26. Bunyi ‘n’ dari ketukan ke-22  hingga menjelang ketukan ke-26 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘n’ dengan durasi 4 ketukan.
Imam Jamzuri mengatakan.
 "Dan ghunnahkanlah setiap mim dan nun yang bertasydid. Dan sebutkanlah masing-masing sebagai huruf ghunnah."




Wajibul Ghunnah atau Ghunnah Musyaddah-30 minit Ustad Don.mpg